Pada suatu hari, setelah shalat Ashar di
Mesjid ia bernazar,
“ya
Allah swt. jika engkau mengaruniai aku seorang anak maka akan kusembelih
seekor
kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”.
Setelah ia pulang
dari
mesjid, istrinya yang bernama Nazariah berteriak dari jendela rumahnya:
Nazariah
: “hai, hoi, cuit-cuit, suamiku tercinta, aku sayang kepadamu, ayo kemari,
cepat
aku gak sabaran lagi, kepengen ni, cepat, aku kepengen ngomong”
Abdul
heran dengan sikap istrinya seperti itu, dan langsung cepat-cepat dia masuk
kerumah
dengan penasaran sebesar gunung.
Abdul
: h, h, h, h, h, h, nafasnya kecapaian berlari dari jalan menuju kerumahnya
“ada
apa istriku yang cantik?”
Nazariah
: “aku hamil kang mas”
Abdul
: “kamu hamil?, cihui, hui, “
Sambil meloncat-loncat kegirangan di atas
tempat tidur, Plok, dia terperosok ke
dalam
tempat tidurnya yang terbuat dari papan itu.
Tidak
lama setelah kejadian itu istrinya melahirkan seorang anak laki-laki yang
sangat
cantik
dan lucu. Dan diberi nama Sukawati
Pak
lurah : “Anak anda kan laki-laki, kenapa diberi nama Sukawati?”
Abdul
: “dikarenakan anak saya laki-lakilah makanya saya beri nama Sukawati, jika
saya
beri nama Sukawan dia disangka homo.
Abdul
: “Hai Malik (ajudannya) cepat kamu cari kambing yang mempunyai tanduk
sebesar
jengkal manusia”.
Malik
: “tanduk sebesar jengkal manusia?” ia heran “mau cari dimana tuan?”
Abdul
: “cari di dalam hidungmu dongol, ya cari diseluruh ke seluruh negeri ini”
Beberapa
hari kemudian.
Malik
: “Tuan Abdul, saya sudah cari kemana-mana tetapi saya tidak menemukan
kambing yang punya tanduk sejengkal manusia”
Abdul
: “Bagaimana kalau kita membuat sayembara, cepat buat pengumuman ke seluruh
negeri bahwa kita membutuhkan seekor kambing yang memiliki tanduk sejengkal
manusia untuk disembelih”
Menuruti
perintah tuannya, Malik segera menempelkan pengumunan di seluruh negeri
itu,
dan orang-orang yang memiliki kambing yang bertandukpun datang kerumah
Abdul,
seperti pengawas Pemilu, Abdul memeriksa tanduk kambing yang dibawa tersebut.
Abdul
: “hai tuan anda jangan menipu saya, kambing ini tidak memiliki tanduk
sebesar jengkal manusia”
kemudian
ia pergi ke kambing lain “jangan main-main tuan, ini tanduk kambing palsu”.
Setelah
sekian lama menyeleksi tanduk kambing yang dibawa oleh kontestan sayembara,
ternyata tidak satupun yang sesuai dengan nazarnya kepada Allah swt.
Abdul
hampir putus asa, tiba-tiba.
Abdul
: “aha, saya teh ada ide, segera kamu ke ibu kota dan jumpai pak Abu dan
katakan saya ingin meminta tolong masalah saya.
Malik
segera menuruti perintah tuannya, dan segera menuju ibu kota dan menjumpai
Pak
Abu yang punya nama lengkap Abu Nawas.
Malik
: “Pak Abu, begini ceritanya, cus, cues, ces. Pak Abu bisa bantu tuan saya”
Pak
Abu : “katakan pada tuan kamu, bawa kambing yang punya tanduk dan bayinya
tersebut
besok pagi ke mesjid Fathun Qarib.
Malik
segera pulang dan memberitahukan kepada tuannya bahwa Pak Abu bisa membantu dan
cus, cues, ces, sstsst,
Di
esok pagi Abdul menjumpai Pak Abu dengan seekor kambing yang punya tanduk dan
anaknya yang masih bayi tersebut, beserta istrinya.
Pak
Abu : “Baiklah tuan Abdul, jika nazarmu kepada Allah swt. menyembelih
kambing
yang punya tanduk sebesar jengkal manusia, sekarang tunjukkan mana kambing yang
kau bawa kemari, dan mana anakmu”
Abdul
: “ini kambing dan anak saya Pak Abu”
Pak
Abu kemudian mengukur tanduk kambing tersebut dengan jengkal anak bayi
tersebut
dan Pak abu memperlihatkannya ke Abdul
Pak
Abu : “sekarang kamu sudah bisa membayar nazarmu kepada Allah swt. karena
sudah
dapat kambing yang pas”
Abdul
: “cihui, uhui, pak Abu memang hebat”, dia meloncat-loncat kegirangan di
dalam mesjid setelah melakukan sujud syukur, dan tiba-tiba sleit, dia
terpeleset jatuh, karena lantainya baru saja di pel oleh pengurus mesjid itu.


0 komentar:
Posting Komentar